Tnjukkan Kualitas Musik Setajam Beling GRUP band lokal di Kaltim, tampaknya semakin marak dan berkembang. Melalui karya-karya yang dimiliki, mereka mencoba “bersaing” untuk masuk industri musik di Indonesia. Salah satunya adalah Papachi band...
Papachi merupakan band lokal yang berasal dari Samarinda. Mereka terbentuk tanggal 6 Agustus 1999. Aliran yang mereka usung adalah Alternative Grunge. Ketika awal terbentuk, nama grup mereka belum bernama Papachi. Tetapi, ganti-ganti gitu deh! Yaitu pernah menggunakan nama, Looser, Buser, So Fuckins Grunge. Dan, sekitar bulan Agustus tahun 2000, barulah mereka resmi menggunakan nama Papachi. Kenapa sih, bro, memakai nama Papachi? “Nama Papachi itu mempunyai dua makna. Yaitu, kalo dalam bahasa Banjar berarti pecahan kaca atau beling. Nah, beling atau pecahan kaca itu kan tajam. Berharapnya sih musik kami bisa “setajam beling”. Artinya bisa menembus telinga para penikmat musik, dalam artian kata menyukai genre musik yang kami mainkan,” cerita Ipay, saat bertandang ke Mabes XpResi Kaltim Post, usai tampil di Balikpapan Fair 2008.
Band ini digawangi oleh Ipay (vocal/gitar), Daeng Udhans (bass), dan Ozzy (drum). Loh kok cuma bertiga, yang lain pada kemana? “Kami emang cuma bertiga aja. Kalo pada umumnya, grup band ada lima orang atau lebih, kita sih penginnya tampil dengan formasi yang beda aja. Yaitu tiga orang,” ujar ipay, yang juga berperan sebagai sang leader.
Keterkaitan formasi Papachi dengan grup band idola personilnya, ternyata juga mempengaruhi. Saat itu, keduanya merupakan penggemar grup band Nirvana. Saking nge-fansnya dengan kedua band tersebut, mereka mengikuti style yang ada pada Nirvana. ”Nirvana kan personilnya juga cuma tiga orang. Pokoknya, semua yang ada di grup band kami, terinspirasi dari grup band Nirvana,” ujar Ipay.
Lha, emang kenapa harus Nirvana yang menjadi inspirasi kalian? ”Karena dari segi musik, kami juga sama-sama mengusung musik, yang dibawakan oleh Nirvana. Selain itu, kebetulan kami mempunyai prinsip hidup yang sama. Yaitu, kalo kata kurt cobain, hidup itu bagai cahaya lilin dan menganggap angin adalah takdir diri kita. Diri kita bisa hidup atau mati, mau kaya atau miskin, mau bahagia atau sedih, tergantung dari “angin” atau takdir yang kita miliki. Nah sama saya sama seperti itu! Memang takdir semua manusia sudah digariskan. Tapi takdir nggak akan berubah, kalo manusianya nggak pernah berubah atau berusaha untuk lebih baik,” cerita cowok yang ngefans banget sama Kurt Cobain dan Jim Marrisons ini.
Malang melintang di kancah musik lokal Samarinda selama tujuh tahun, Papachi berhasil menelurkan demo album.
Album pertama mereka berformat live recording di studio Putram, ber-tittle My First Inspiration 1. Di album pertama ini, berisikan tujuh lagu, yaitu, People Smile, Fucken Lady, Perbedaan, Jangan (terjadi perang), Kucingku (dengar), Loser, dan Break thru, yang diciptakan oleh Ipay. Jika grup band lain, kebanyakan bercerita tentang cinta, Papachi berbeda. Lagu-lagi mereka justur lebih cenderung tentang permasalahan hidup sehari-hari. “Soalnya, kalau tentang cinta itu lebih bicarain ke individu masing-masing aja kali yah? Kalau emang cinta, buat apa diomongin ke publik. Cukup dirasakan sendiri,” tutur Ipay.
Selang setahun kemudian, mereka kembali merekam demo album kedua di studio Metronome ber-title My First inspiration II, yang berisi lima lagu. Yaitu, My Song, Burning Love, Drug User, Unknown, Borneoku.
Karya mereka nggak hanya sampai situ aja. Baru-baru ini mereka sudah melepaskan album indie yang dipasarkan tiga kota di kaltim Samarinda, Tenggarong, dan Balikpapan album ini diberi judul “A Beautiful Day For Die” yang berisi sembilan lagu, antara lain Tirani, Burning Love, dan Life is Like Candle Light. Dalam penggarapan materi lagu di album ini, dikerjakan di studio yang berbeda. Yaitu di Channel Studio, EB Record, dan Pedee Production.
Awal bulan April ini, rencananya mereka akan kembali merilis mini album yang ke-II. “Rencananya sih album ini itu berjudul “The (PAPACHI) ‘sme” yang berisikan lima lagu. Insya Allah akan dirilis awal April ini. Untuk penjualan, akan kami jual di kota Samarinda, Tenggarong, Balikpapan, dan juga di Bandung dan Tangerang. Penjualannya, kami distribusikan melalui distro-distro tertentu,” kata Ipay. Wah..kalo gitu, kita tunggu aja deh album mini Papachi selanjutnya. (one) SUMBER KORAN HARIAN KALTIM POST.
Pengalaman musik / prestasi :
- Tenggarong Brisik (metal, punk, and grunge gigs)
- pro2 fm, kpfm, mitra fm, TVRI kaltim (Samarinda)(manggung)
- kpfm, ultah kota balikpapan yang ke 111 (manggung)
- masuk chart indie di radio KPFM Samarinda peringkat 2 (lagu fucken ladies)
- dan beberapa panggung pensi dan meinstream stage di kota Samarinda dan balikpapan
Diskografi : Album ke-1 indie lokal kalimantan timur
Judul:a beautiful day for die
Tahun:2006
album ke 2 indie lokal Kalimantan timur
judul: the(PAPACHI)’sme
Thaun : 2007
Infulence musik : Nirvana 100%
Visi dan Misi : Ingin memajukan scene grunge dikaltim agar orang tau kalo musik grunge tidak semata musik tersisihkan dan minoritas tapi grunge adalah jiwa atau spirit yang muncul dari sebuah pemikiran akan ketidakpuasan akan aturan atau sesuatu yang sifatnya menjajah baik itu pendapat, karya, dan idealisme..grunge bukanlah pilihan hidup yang lahir dari sebuah trend.
PAPACHI are :
Ipay coburn : gitar/vokal
Udhans : bass
Uphix’s : drums
Nama kontak : ipay / triple M
Alamat : Jl. Lambung mangkurat gg. arsyad no. 59, samarinda, kalimantan timur
Telepon : 08125530967
Email :
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Homepage : http://www.youtube.com/papachi01
PESAN : GRUNGE BUKANLAH SEBUAH TREND ATAU LIFSTYLE TAPI GRUNGE ADALAH SEBUAH PEMIKIRAN YANG LAHIR DARI KAUM MINORITAS DAN TERSISIHKAN YANG MUAK AKAN SEBUAH ATURAN DIMANA HANYA ADA PEMERKOSAN DAN INTERVENSI TERHADAP HAK HAK KAUM MINORITAS DAN TERSISIHKAN BAIK HAK DALAM BERKARYA, PENDAPAT, DAN KESETARAAN SOSIAL, SUNGGUH GRUNGE ADALAH SEBUAH IDEOLOGI DALAM BERMUSIK ATAU BERPIKIR



